
Terletak di Dusun Tawing, Desa Sidorejo RT 4 RW 5, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Beginilah kondisi rumah pak Salim. Hanya sebuah gebuk reot yang bisa ambruk kapan saja bila diterpa angin dan hujan.
Di dalamnya hanya ada satu amben (tempat tidur) yang terbuat dari kayu. Di ruangan belakang yang digunakan sebagai tempat memasak hanya ada dapur yang terbuat dari tanah liat.
Tanpa ada kamar mandi ataupun WC. Yang ada hanya padasan kecil (tempayan yang diberi lubang pancuran) sebagai tempat air wudhu. Ya... Pak Salim adalah satu-satunya orang yang menghuni gubuk reot dan memprihatinkan.
Tidak seperti pola pikir masyarakat zaman modern yang pada umumnya cenderung materialisitis, Pak Salim bisa hidup dengan tenang dan damai meski secara materi kehidupannya sangatlah pas-pasan.
Hati yang mulia membuat siapa saja yang membaca kisah ini tergetar dan mengis dengan kemuliaan hati yang ia miliki.
Profesi sehari-harinya hanyalah sebagai seorang buruh macul (buruh tani) dengan penghasilan rata-rata tidak lebih dari Rp 500 ribu per bulan.
Akan tetapi, Pak Salim bisa menikmati hidupnya, bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.
Bahkan, yang membuat kita terhenyak adalah ketika sebuah komunitas sosial Solidaritas Wajah Pribumi (WAPRI) yang berkantor pusat di Blitar, bermaksud memberikan bantuan baik berupa uang ataupun paket sembako, sekitar seminggu yang lalu, Pak Salim dengan halus menolaknya.
Jawaban yang ia berikan sungguh bijak dan sangat menyentuh hati.
"Pada saat kami mendapat satu amanah uang tunai sebesar Rp.1.000.000 (satu juta Rupiah) dari sahabat WAPRI untuk disampaikan kepada Pak salim, beliau menolaknya. Saat itu pada awalnya saya hanya menunjukkan amplopnya, tak menunjukkan nilai nominalnya. Kemudian amplop itu saya buka dan saya hitung di depan beliau.
'Uang ini saya terima, tapi tolong sampaikan kepada yang lebih berhak lagi. Masih banyak di luar sana yang lebih membutuhkan daripada saya'
Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.